Artikel Pangan

Artikel Pangan (15)



Perkembangan teknologi secara keseluruhan mengalami kemajuan yang cukup pesat, termasuk di bidang teknologi pangan.  Permintaan dan penyediaan pangan dalam kemasan menjadi dua hal yang meningkat secara bersinergi.  Sehingga kebutuhan akan peningkatan mutu produk-produk pangan yang diproduksi menjadi hal yang wajib dipenuhi oleh produsen pangan, terutama pangan olahan dalam kemasan yang menginginkan produknya dengan kriteria mutu tertentu.  Misalnya untuk kebutuhan peningkatan keawetan dibutuhkan pengawet, pengurangan penggunaan gula dibutuhkan pemanis, menjaga kestabilan dibutuhkan penstabil, dan lainnya.  Pengawet, pemanis dan penstabil tersebut termasuk pada Bahan Tambahan Pangan (BTP).

Beberapa hari terakhir ini, kita dihebohkan oleh kabar ditariknya sejumlah jenis buah apel asal Amerika Serikat yang terkontaminasi oleh bakteri Listeria monocytogenes. Seberapa bahaya bakteri tersebut untuk manusia? Berikut ini merupakan penjelasan singkat mengenai karakteristik bakteri Listeria monocytogenes.  

Seperti sudah diketahui bahwa bekatul (rice bran) adalah bagian luar dari beras yang terlepas menjadi serbuk halus pada proses penggilingan padi menjadi beras.  Belum banyak orang yang mengenal manfaat bekatul, selain hanya dikenal sebagai makanan (pakan) ternak.  Siapa yang mengira ternyata bekatul awet dan bahan aktifnya telah digunakan sebagai bahan tambahan dan ingredient produk kecantikan.  Kandungan asam amino, gamma-Oryzanol, dan asam ferulat terdapat di dalam bekatul diketahui memiliki kemampuan sebagai pelindung kulit sehingga sesuai digunakan sebagai ingredient untuk industri kosmetik. 

Kesehatan merupakan hal terpenting dan utama dalam kehidupan manusia dibandingkan lainnya seperti jabatan, kekuasaan, pangkat, ataupun kekayaan. Tanpa kesehatan yang optimal, semuanya akan menjadi tidak bermakna, oleh karena itu sehat dan bugar merupakan dambaan setiap orang.

Apa yang biasanya Anda makan sebagai bahan pelengkap roti? Mentega atau margarin? Benarkah keduanya sama? Atau justru sangat berbeda? Mari kita lihat penjelasan singkat berikut ini.

Mengikuti perkembangan pembahasan RUU tentang Sistem Jaminan Halal oleh para anggota DPR akhir-akhir in menarik perhatian kita semua. Betapa tidak, berbagai kalangan ingin dilibatkan dalam proses sertifikasi halal. Mulai dari ormas sosial keagamaan, departemen agama, sampai fraksi-fraksi di DPR, yang mempunyai pandangan masing-masing tentang sertifikasi halal.  Ini seolah-olah merebutkan sekaligus meributkan sertifikasi halal yang selama ini sudah dijalankan oleh LP POM MUI.

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa makanan merupakan komponen budaya. Merupakan hasil adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Adaptasi terhadap apa-apa yang bisa dimakan dan apa-apa yang tabu untuk dimakan. Ini tentunya akan menjadi menarik karena makan bukan hanya tentang apa yang kita sukai untuk dimakan, tetapi juga nutrisi (faedah) apa yang kita dapat dari makanan. Beberapa makanan justru baik untuk tubuh namun tidak lazim dimakan dalam budaya tertentu, atau justru sebaliknya. Kajian mengenai ketahanan pangan tentunya harus tidak luput dari kompenen ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Walaupun informasi keberadaan bakteri dalam pangan tradisional jumlahnya terbatas, namun diketahui bahwa sayuran sebagai sumber serat yang sangat baik ternyata mengandung cemaran bakteri dalam jumlah yang tinggi. Penulis beranggapan bahwa kebiasaan mengkonsumsi makanan mentah oleh sebagian masyarakat kita merupakan kebiasaan yang kurang baik.

Tindakan preventif berupa pencucian yang dilanjutkan dengan pemanasan (memasak sampai matang) merupakan kebiasaan positif yang perlu digalakkan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi atau menurunkan jumlah cemaran bakteri sehingga dapat mengurangi terjadinya bahaya biologis atau mikrobiologis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia menunjukkan bahwa berbagai upaya yang dilakukan manusia untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya pada awalnya berbasis pada sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Mereka telah mempunyai pengalaman panjang dan turun temurun dalam menyeleksi berbagai sumber daya hayati di sekitarnya, yang mereka anggap dan yakini bermanfaat bagi peningkatan kesehatan dan terapi penyakit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bekatul atau rice bran (RB) adalah bagian luar dari beras yang terlepas menjadi serbuk halus pada proses penggilingan padi menjadi beras. Lapisan terluar tersebut terdiri dari lapisan aleurone beras (rice kernel), endosperm, dan germ. Walaupun RB tersedia melimpah di Indonesia, namun pemanfaatannya untuk konsumsi manusia sebagai sumber pangan dan gizi masih terbatas. Sampai saat ini pemanfaatannya terbatas sebagai pakan ternak.

Halaman 1 dari 2

Search