Artikel Pangan

Artikel Pangan (12)

Kesehatan merupakan hal terpenting dan utama dalam kehidupan manusia dibandingkan lainnya seperti jabatan, kekuasaan, pangkat, ataupun kekayaan. Tanpa kesehatan yang optimal, semuanya akan menjadi tidak bermakna, oleh karena itu sehat dan bugar merupakan dambaan setiap orang.

Apa yang biasanya Anda makan sebagai bahan pelengkap roti? Mentega atau margarin? Benarkah keduanya sama? Atau justru sangat berbeda? Mari kita lihat penjelasan singkat berikut ini.

Mengikuti perkembangan pembahasan RUU tentang Sistem Jaminan Halal oleh para anggota DPR akhir-akhir in menarik perhatian kita semua. Betapa tidak, berbagai kalangan ingin dilibatkan dalam proses sertifikasi halal. Mulai dari ormas sosial keagamaan, departemen agama, sampai fraksi-fraksi di DPR, yang mempunyai pandangan masing-masing tentang sertifikasi halal.  Ini seolah-olah merebutkan sekaligus meributkan sertifikasi halal yang selama ini sudah dijalankan oleh LP POM MUI.

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa makanan merupakan komponen budaya. Merupakan hasil adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Adaptasi terhadap apa-apa yang bisa dimakan dan apa-apa yang tabu untuk dimakan. Ini tentunya akan menjadi menarik karena makan bukan hanya tentang apa yang kita sukai untuk dimakan, tetapi juga nutrisi (faedah) apa yang kita dapat dari makanan. Beberapa makanan justru baik untuk tubuh namun tidak lazim dimakan dalam budaya tertentu, atau justru sebaliknya. Kajian mengenai ketahanan pangan tentunya harus tidak luput dari kompenen ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Walaupun informasi keberadaan bakteri dalam pangan tradisional jumlahnya terbatas, namun diketahui bahwa sayuran sebagai sumber serat yang sangat baik ternyata mengandung cemaran bakteri dalam jumlah yang tinggi. Penulis beranggapan bahwa kebiasaan mengkonsumsi makanan mentah oleh sebagian masyarakat kita merupakan kebiasaan yang kurang baik.

Tindakan preventif berupa pencucian yang dilanjutkan dengan pemanasan (memasak sampai matang) merupakan kebiasaan positif yang perlu digalakkan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi atau menurunkan jumlah cemaran bakteri sehingga dapat mengurangi terjadinya bahaya biologis atau mikrobiologis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia menunjukkan bahwa berbagai upaya yang dilakukan manusia untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya pada awalnya berbasis pada sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Mereka telah mempunyai pengalaman panjang dan turun temurun dalam menyeleksi berbagai sumber daya hayati di sekitarnya, yang mereka anggap dan yakini bermanfaat bagi peningkatan kesehatan dan terapi penyakit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bekatul atau rice bran (RB) adalah bagian luar dari beras yang terlepas menjadi serbuk halus pada proses penggilingan padi menjadi beras. Lapisan terluar tersebut terdiri dari lapisan aleurone beras (rice kernel), endosperm, dan germ. Walaupun RB tersedia melimpah di Indonesia, namun pemanfaatannya untuk konsumsi manusia sebagai sumber pangan dan gizi masih terbatas. Sampai saat ini pemanfaatannya terbatas sebagai pakan ternak.

BELUM lama ini, diberitakan di beberapa media nasional tentang dugaan adanya cemaran arsenik pada beras impor dari Thailand. Masih dalam ingatan kita, meninggalnya pejuang HAM nasional Munir, karena terpapar arsenik dalam jumlah tinggi. Berita adanya cemaran arsenik pada beras impor bukan berita baru, setidaknya media Jurnal Nasional sudah pernah menurunkan berita serupa pada Januari 2011.

Bekatul atau rice bran adalah hasil samping penggilingan padi terdiri yang dari aleurone layer, seed coat, dan germ (Gambar 1). Pada Gambar 1 juga ditampilkan alur proses pengolahan padi menjadi beras yang pada saat yang sama juga akan dihasilkan bekatul. Bekatul merupakan produk samping penggilingan beras yang terdiri dari 10 persen dari proses penggilingan padi menjadi beras (Shih, 2003). Rice brandalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan nama bekatul, untuk selanjutnya penulis menggunakan istilah bekatul



Saat pulang mudik dari Indonesia, seperti biasanya saya selalu menyempatkan untuk membeli oleh-oleh/buah tangan atau di Jepang dikenal dengan nama omiyage. Omiyage yang saya bawa biasanya adalah makanan-makanan tradisional khas Bogor-tempat tinggal penulis.

Seperti umumnya setiap orang yang diberi hadiah akan senang sekali, demikian pula dengan teman-teman saya di lab yang mayoritas adalah orang Jepang. Berbagai komentar selalu mereka layangkan, seperti menanyakan nama makanan dan bahan-bahan dasarnya, cara pengolahan, rasa, penampilan, harga, dan industri yang memproduksi makanan tersebut.

Search